RPP Kurikulum Merdeka untuk Guru
Pendidikan Pengajaran #rpp #kurikulum-merdeka #perangkat-ajar #tujuan-pembelajaran

RPP Kurikulum Merdeka untuk Guru

L
Lailatul Karimah
6 min read
Bagikan:

Salah satu perubahan yang paling terasa ketika Kurikulum Merdeka diterapkan adalah soal perencanaan pembelajaran. RPP yang selama ini kita kenal — dengan belasan komponen, format ketat, dan halaman yang bisa mencapai dua digit — berubah drastis menjadi dokumen yang jauh lebih ringkas. Namun justru di sinilah banyak guru merasa bingung: jika hanya ada tiga komponen, apakah RPP-nya sudah cukup? Apakah tidak kurang detail?

Kebingungan itu wajar. Bertahun-tahun terbiasa dengan RPP K-13 yang panjang, tiba-tiba dihadapkan pada format baru yang terasa terlalu sederhana. Tapi kesederhanaan ini bukan kemalasan — ini adalah pilihan desain yang disengaja, berlandaskan filosofi bahwa guru perlu lebih banyak waktu untuk mengajar, bukan untuk mendokumentasikan rencana mengajar. Artikel ini membahas apa itu RPP dalam Kurikulum Merdeka, bagaimana strukturnya, dan cara menyusunnya secara efektif dari nol.

Apa Itu RPP dalam Kurikulum Merdeka

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dalam Kurikulum Merdeka adalah dokumen perencanaan yang berisi tujuan, kegiatan, dan asesmen pembelajaran untuk satu sesi atau beberapa sesi tatap muka. Berbeda dengan RPP K-13 yang mewajibkan banyak komponen administratif, RPP Kurikulum Merdeka hanya mewajibkan tiga komponen inti.

Penyederhanaan ini mengacu pada Surat Edaran Kemendikbud Nomor 14 Tahun 2019 tentang Penyederhanaan RPP, yang kemudian menjadi landasan format RPP dalam Kurikulum Merdeka. Filosofi dasarnya: guru adalah profesional yang paling tahu konteks kelasnya sendiri, sehingga dokumen perencanaan harus memberi ruang untuk penilaian profesional — bukan mengekang dengan prosedur administratif.

Dalam Kurikulum Merdeka, RPP dan modul ajar adalah dua dokumen yang berbeda. RPP adalah versi minimalis (hanya 3 komponen), sementara modul ajar adalah versi lengkapnya yang menyertakan materi, LKPD, dan rubrik asesmen. Guru boleh memilih memakai salah satu, tergantung kebutuhan dan kompleksitas topik.

Tiga Komponen Inti RPP yang Wajib Ada

Tiga komponen berikut adalah satu-satunya bagian yang wajib ada dalam RPP Kurikulum Merdeka. Komponen lain seperti identitas sekolah, tanggal, atau daftar media bersifat pelengkap — boleh ada, boleh tidak.

Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran adalah kompas RPP — semua yang ada di dokumen ini harusnya bermuara ke sini. Tujuan yang baik mendeskripsikan dua hal secara bersamaan: proses yang akan dialami murid dan hasil yang diharapkan dicapai.

Tujuan yang terlalu umum seperti “murid memahami pecahan” tidak cukup. Yang lebih efektif: “Murid dapat membandingkan dua pecahan biasa dengan menyebutkan alasannya menggunakan model visual.” Spesifisitas ini membuat kegiatan dan asesmen lebih mudah dirancang secara koheren.

Tujuan pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka diturunkan dari Capaian Pembelajaran (CP) melalui Alur Tujuan Pembelajaran (ATP). Jika sekolah sudah memiliki ATP yang disepakati, maka tujuan pembelajaran di RPP tinggal menyesuaikan topik dan fase yang sedang berjalan.

Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran merinci apa yang akan terjadi di kelas — dari pembukaan, kegiatan inti, hingga penutup. Ini bukan sekadar agenda waktu, tapi narasi singkat yang menerangkan bagaimana murid akan terlibat aktif dengan materi.

Struktur umum yang praktis digunakan:

  • Pendahuluan — apersepsi, pertanyaan pemantik, atau aktivitas pemanasan (5–10 menit)
  • Inti — aktivitas pembelajaran utama: eksplorasi, diskusi, praktik, atau demonstrasi (30–40 menit)
  • Penutup — refleksi, simpulan bersama, atau tugas tindak lanjut (5–10 menit)

Kegiatan tidak perlu ditulis sangat panjang. Dua hingga tiga kalimat per tahapan sudah cukup untuk RPP. Jika topiknya kompleks dan membutuhkan penjelasan detail per langkah, pertimbangkan untuk beralih ke format modul ajar yang lebih lengkap.

Asesmen Pembelajaran

Asesmen adalah bagian yang sering ditulis paling singkat di RPP, padahal ini yang menentukan apakah tujuan pembelajaran tercapai atau tidak. Setidaknya sebutkan tiga hal: jenis asesmen yang digunakan, kapan dilakukan, dan apa yang dinilai.

Dalam Kurikulum Merdeka, ada tiga jenis asesmen yang bisa dipadukan:

Jenis AsesmenKapan DilakukanFungsi
Asesmen diagnostikSebelum pembelajaranMengetahui kemampuan awal dan kebutuhan murid
Asesmen formatifSelama proses pembelajaranMemantau perkembangan, memberi umpan balik
Asesmen sumatifDi akhir unit atau semesterMengukur ketercapaian tujuan pembelajaran

Untuk satu RPP satu pertemuan, asesmen formatif adalah yang paling relevan — misalnya observasi, kuis lisan, atau kartu keluar (exit ticket) di akhir sesi.

Cara Menyusun RPP dengan Prinsip Berpikir Mundur

Cara paling efektif menyusun RPP Kurikulum Merdeka adalah dengan berpikir mundur (backward design): mulai dari akhir, baru merancang ke depan. Ini terasa tidak intuitif pada awalnya, tapi hasilnya jauh lebih koheren.

Urutan berpikirnya seperti ini:

  1. Tetapkan tujuan pembelajaran — apa yang harus bisa dilakukan murid di akhir sesi?
  2. Rancang asesmen — bukti apa yang menunjukkan murid sudah mencapai tujuan itu?
  3. Rencanakan kegiatan — aktivitas apa yang membantu murid mencapai tujuan dan menghasilkan bukti tersebut?

Dengan urutan ini, setiap elemen RPP saling terhubung secara logis. Guru tidak menulis kegiatan yang seru tapi tidak mengarah ke mana-mana, dan tidak membuat asesmen yang tidak berkaitan dengan apa yang dilatihkan.

Bayangkan seorang guru kelas 5 SD yang akan mengajar tema perubahan wujud zat. Alih-alih langsung membuka buku dan mencatat langkah-langkah eksperimen, ia mulai dengan bertanya: “Di akhir pelajaran, apa yang harus bisa dijelaskan murid?” Jawabannya menjadi tujuan. Dari sana, ia pikirkan bukti yang bisa dikumpulkan — mungkin lembar observasi eksperimen sederhana. Baru kemudian ia rancang kegiatan yang memungkinkan murid mengisi lembar itu dengan pengamatan nyata.

Perbedaan RPP dan Modul Ajar yang Perlu Dipahami

Banyak guru yang masih menyamakan RPP dan modul ajar karena keduanya memang berkaitan erat. Tapi ada perbedaan mendasar yang perlu dipahami sebelum memilih format mana yang akan dipakai.

RPP adalah dokumen perencanaan yang ringkas — berisi tujuan, kegiatan, dan asesmen tanpa detail tambahan. Modul ajar adalah versi yang lebih lengkap: mencakup semua komponen RPP ditambah materi pembelajaran, lembar kerja peserta didik (LKPD), glosarium, dan rubrik asesmen yang terinci.

“Guru dapat mengembangkan modul ajar atau RPP sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.” — Panduan Pembelajaran dan Asesmen, Kemendikbudristek

Praktisnya: gunakan RPP untuk pembelajaran sehari-hari yang materinya sudah familiar dan tidak membutuhkan panduan detail. Gunakan modul ajar untuk topik baru, pembelajaran berbasis proyek, atau ketika ada murid dengan kebutuhan belajar yang sangat beragam dan memerlukan panduan diferensiasi yang jelas.

Kesalahan Umum yang Sering Terjadi Saat Menyusun RPP

Penyederhanaan format bukan berarti bebas dari jebakan. Beberapa kesalahan ini sering muncul justru karena guru terlalu bebas dalam menafsirkan “fleksibilitas”.

  • Tujuan terlalu luas — menulis “murid memahami perkalian” tanpa menyebut konteks atau tingkat kedalaman yang diharapkan membuat asesmen menjadi ambigu.
  • Kegiatan tidak terhubung ke tujuan — merancang aktivitas yang menarik tapi tidak secara langsung membantu murid mencapai tujuan yang ditetapkan.
  • Asesmen diabaikan atau hanya formalitas — menulis “penilaian: observasi” tanpa menjelaskan apa yang diobservasi dan bagaimana hasil observasi digunakan.
  • Menyalin RPP tanpa adaptasi — mengunduh RPP dari internet dan memakai langsung tanpa menyesuaikan dengan kondisi kelas, kemampuan awal murid, atau sumber daya yang tersedia.

RPP yang disalin tanpa adaptasi bukan sekadar dokumen yang kurang akurat — ini bisa menyebabkan kegiatan pembelajaran tidak sesuai dengan konteks murid yang sebenarnya. Kurikulum Merdeka justru mendorong guru untuk merencanakan berdasarkan data nyata tentang murid di kelas mereka.

Kesimpulan

RPP Kurikulum Merdeka bukan dokumen yang lebih mudah dibuat karena lebih pendek — melainkan dokumen yang lebih bermakna karena hanya berisi yang benar-benar penting. Tiga komponen inti itu bukan batas minimum yang bisa dilangkahi, tapi kerangka berpikir yang memaksa guru fokus pada yang esensial: tujuan yang jelas, kegiatan yang relevan, dan asesmen yang bermakna. Jika sudah menguasai ketiga komponen ini dengan baik, langkah berikutnya adalah mengembangkannya menjadi modul ajar yang lebih lengkap untuk topik-topik yang membutuhkan panduan pembelajaran lebih terstruktur.

Referensi

  1. 1Filosofi di Balik Penyederhanaan RPP — Direktorat GTK Kemdikdasmen
  2. 2Portal Kurikulum Merdeka — Kemendikbudristek
  3. 3Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka — Jurnal Yudistira, ARIPI

Tentang Penulis

Lailatul Karimah

Lailatul Karimah

Guru Muda Profesional dari Gresik, Indonesia. Passionate tentang dunia pendidikan, pengembangan karakter siswa, dan inovasi pembelajaran.